Di markas tersembunyi jauh di dalam perut bumi, lima sosok berjubah duduk melingkar di dalam ruangan batu yang dipenuhi cahaya sihir samar. Dada mereka naik turun dengan napas tersengal, telapak tangan menekan erat bagian yang terasa nyeri. Di ujung bibir masing-masing tampak jejak darah segar yang belum sempat mereka bersihkan.

Rina menggertakkan giginya, suaranya terdengar berat saat berbicara, "Nyonya... kita tak bisa menunggu lebih lama. Kita harus segera memperoleh fragmen terakhir sebelum kekuatan iblis ini lepas kendali."

Sari mengangguk cepat, wajahnya memucat. "Benar... meski kita bisa memulihkan diri dengan cepat, energi yang dibutuhkan untuk menjaga kendali atas senjata ini semakin besar. Aku takut segel kita tak akan bertahan lama."

Mira mengangkat tangan pelan, memberi isyarat agar mereka tenang. Suaranya tetap lembut, tapi sorot matanya tajam. "Kalian tak perlu cemas. Lokasi fragmen terakhir sudah ditemukan. Rira sedang memancingnya keluar. Tapi ramalanku mengatakan sesuatu yang bisa mengganggu rencana kita ada disana."

Sejak mereka berhasil mengumpulkan keempat fragmen senjata iblis, kelima penyihir itu harus terus-menerus menahan tekanan energi kegelapan yang muncul dari resonansi antarfragmen. Saat fragmen itu semakin dekat satu sama lain, dorongan untuk menyatu menjadi lebih kuat, dan kekuatan iblis yang keluar pun semakin mengamuk. Untuk menahannya, mereka harus mengerahkan lebih banyak kekuatan sihir mereka.

Mira berdiri perlahan, jubahnya bergoyang lembut seiring gerakannya. Tatapannya penuh tekad. "Aku akan ikut kesana menemani kalian untuk mengambil fragmen terakhir. Tanpa bagian itu, senjata ini tidak akan pernah bisa kita kuasai."

Keempat rekannya saling pandang, lalu tersenyum meski masih menahan rasa sakit. Serempak mereka menjawab, "Baik, Nyonya. Sepertinya kita akan bersenang-senang di sana."

Tanpa membuang waktu, Mira kembali membentuk pola sihir rumit di udara. Lambang-lambang kuno bercahaya muncul di sekeliling keempat fragmen yang disegel, memancarkan kekuatan pelindung baru.

***

Di tanah tandus yang dipenuhi puing-puing reruntuhan, Bai Wujian melangkah mundur dengan tubuh gemetar. Matanya menatap sosok yang berdiri di hadapannya, wajahnya penuh kebingungan dan ketakutan.

"Kau... siapa sebenarnya kau?" suaranya nyaris tak terdengar, seakan tenggorokannya tercekat oleh kengerian yang merambat dari dalam dada.

Sosok itu menyeringai, auranya begitu pekat hingga udara di sekelilingnya terasa menekan. "Semut sepertimu tidak pantas menanyakan itu."

Kalimat itu menghantam pikiran Bai Wujian seperti palu. Ia terjatuh terduduk, matanya membelalak. Ia mengenali kalimat itu. Kata-kata dan cara bicara yang sama persis dengan yang pernah ia dengar ratusan tahun silam.

"...Ketua Sekte Iblis..." bisiknya pelan, hampir tak percaya.

Tak pernah sekalipun Bai Wujian melihat wajah asli sang ketua sekte, sebab sosok itu selalu menyembunyikan dirinya di balik topeng sehingga tidak ada yang mengenali. Namun sekarang, tanpa keraguan sedikit pun, ia tahu bahwa orang yang berdiri di hadapannya bukan hanya masa lalu, tapi nyata. Rasa takut yang mendalam membuncah dalam dadanya. Ia berbalik dan berlari, seperti anak kecil yang ingin menjauh dari monster dalam mimpinya. Kenangan akan penyiksaan brutal yang pernah ia saksikan dulu muncul kembali, menghancurkan keberaniannya hingga tak tersisa.

Sekte Kegelapan yang kini dikenal, dulunya didirikan oleh orang kepercayaan Ketua Sekte Iblis. Namun setelah senjata iblis tersegel dan sang ketua menghilang tanpa jejak, pria itu berkhianat dan melarikan diri lalu membentuk kekuatan sendiri demi tujuannya sendiri. Ia menguasai teknik segel jiwa yang diwariskan kepadanya, membangun kekuatan besar demi menguasai pecahan senjata iblis, demi menguasai dunia. Namun sekarang, semua rencana itu tampak kecil... karena pria yang mereka anggap telah tiada kini berdiri hidup di hadapan mereka.

Delapan kultivator lainnya hanya bisa menatap Bai Wujian yang melarikan diri. Mereka ingin bergerak, tapi tubuh mereka membeku. Mereka sadar, tidak ada satu pun dari mereka yang bisa melawan sosok di hadapan mereka. Ketika nama Ketua Sekte Iblis keluar dari mulut Bai Wujian, tubuh mereka seketika tersentak. Sosok itu adalah bayang-bayang yang ditakuti seluruh dunia, namun mereka masih belum menyadari maksud perkataan tersebut.

Bai Wujian berlari sekuat tenaga, pikirannya kacau. Ia tidak sadar bahwa ia telah terbang ke arah yang salah, melewati formasi menuju arah keluar. Nafasnya memburu, keringat mengalir deras, tapi ia tak berhenti. Ia hanya ingin menjauh sejauh mungkin.

Namun belum sempat ia mengambil langkah lebih jauh, sosok pria tua itu tiba-tiba sudah berdiri di depannya, muncul tanpa suara, seperti bayangan maut.

"Maafkan aku... aku menyerah... aku akan..." suara Bai Wujian terputus di tengah kalimat.

Matanya membelalak, darah surut dari wajahnya. Ia melihat sesuatu yang tak bisa ia percaya. Jantungnya sendiri, berdenyut pelan, berada di genggaman pria itu.

Ia menunduk perlahan, melihat dadanya yang berlubang menganga, lalu tubuhnya melemas. Kekuatan menghilang dari tubuhnya, matanya meredup, dan dalam sekejap ia jatuh dari ketinggian seperti boneka yang talinya diputus.

Monrest menatap tubuh yang terhempas di bawah sana dengan senyum dingin di bibir. "Jiwamu sudah terikat segel. Tidak ada gunanya menyerapnya." ucapnya pelan, sebelum membalikkan tubuh dan melangkah kembali, seolah kejadian barusan tak lebih dari angin lalu.

Melihat tetua Bai Wujian tewas dalam sekejap mata, kedelapan kultivator grandmaster menggigil ketakutan. Mereka melirik ke arah Tetua Mo Hanyi dan Feng Qiren, mereka tidak bisa mengetahui apakah kedua tetua masih hidup atau tidak. Namun satu hal yang pasti, melawan berarti kematian dan melarikan diri sangat tidak mungkin dilakukan.

Kedelapan kultivator grandmaster menggigil. Mereka menatap sesama dengan panik, lalu serempak bersujud di hadapan sosok Monrest yang kini berdiri semakin dekat.

"Tetua, tolong ampuni nyawa kami. Kami menyerah. Kami akan mengikuti segala perintahmu." ujar Luo Zhen sambil membungkuk sedalam-dalamnya.

"Benar tetua, kami berasal dari Sekte Kegelapan. Kami punya banyak sumber daya. Kami akan berguna." suara lain menyusul, dipenuhi rasa takut dan putus asa.

Namun Monrest hanya tersenyum.

Jeritan mendadak menggema.

"AAARRHH!"

Api hitam menyelimuti kedelapan orang itu. Dalam hitungan detik, tubuh mereka musnah, berubah menjadi abu yang tertiup angin.

Monrest melangkah dan memandangi seluruh pasukannya, sorot matanya menyapu langit. "Kalian lihat... immortal tak lebih dari semut di mataku. Aku akan membawa kalian ke puncak kekuasaan. Kita hancurkan semua yang menghalangi. Dunia surgawi pun akan kita tundukkan."

Suaranya pelan, namun menggema sampai ke setiap penjuru. Dari berbagai tempat pasukannya berseru menyambut.

"Hidup Leluhur Monrest! Hidup Leluhur Monrest!"

Monrest menatap langit, matanya menyipit. "Lynx... aku akan memulainya darimu. Setelah kekuatanku kembali sepenuhnya, kau akan jadi korban pertama."

***

Di dunia kecil, Lynx berdiri tak jauh dari Lala yang masih berkutat dengan kertas dan perangkat komputernya. Gadis itu bicara sendiri, kadang mencoret sesuatu dengan kasar, lalu mengomel sambil memukul keningnya.

Lynx menunggu dengan sabar, tapi dadanya sesak. Ia khawatir. Sudah terlalu lama sejak sinyal dari Kael dan yang lain menghilang.

Akhirnya, setelah satu jam yang terasa seperti seabad, Lala menghampirinya dengan mata yang berbinar.

"Lala... bagaimana? Ada petunjuk? Apa kau bisa menyelamatkan mereka?" tanya Lynx cepat, nada suaranya tegang.

"Tentu saja. Aku sudah menemukan caranya." Lala tersenyum, tapi lalu menunduk dan menunjukkan kertas di tangannya. "Tapi aku juga menemukan sesuatu yang mengejutkan tentang energimu."

"Energiku? Bisa kita bahas nanti? Yang penting sekarang kita selamatkan Kael dan yang lain dulu." kata Lynx, semakin tidak sabar.

"Aku membuat replika kunci dimensi. Tapi kunci ini hanya bisa diaktifkan dengan energi spiritual murni. Energi yang tidak berasal dari dunia ini."

Lynx mengerutkan dahi. "Apa maksudmu? Energi iblis?"

Lala menggeleng. "Bukan. Energi yang ku maksud adalah energi utamamu yang berasal dari batu meteor. Selama ratusan tahun, batu itu menyerap energi dari berbagai dimensi, dari seluruh galaksi. Di tubuhmu, semua energi itu bersatu dan membentuk satu jenis kekuatan baru."

"Bagaimana kau tahu itu? Bukankah kamu bilang semuanya sudah menyatu di dalam diriku menjadi kekuatan baru?"

"Aku sudah bertahun-tahun meneliti banyak dimensi demi mencari ayahku. Selama itu, aku pelajari semua jenis energi yang mungkin ditemukan. Beberapa yang kukenal muncul di hasil analisa, sisanya... belum pernah kulihat sebelumnya."

Lynx menarik napas panjang. "Baik. Jadi, bagaimana ini menyelamatkan teman-teman kita?"

Lala menyerahkan kunci dimensi itu ke tangan Lynx. "Alirkan energi yang paling murni dari dalam dirimu ke sini. Nanti aku akan beri tanda saat sudah cukup. Tapi..."

Dia berhenti sejenak. Wajahnya mendadak muram.

"Apa?"

"Kita cuma punya satu kesempatan. Setelah kamu salurkan energimu, kunci ini akan membuka portal. Begitu terbuka, kamu hanya punya lima menit. Setelah itu, gerbang akan menutup dan kunci ini hancur."

Lynx menggenggam kunci itu erat. Ia menatap Lala dan mengangguk pelan. Tak ada rasa ragu. Tak ada ketakutan. Karena baginya, menyelamatkan teman adalah hal yang harus dia lakukan.

